Showing posts with label Energi Sejati. Show all posts
Showing posts with label Energi Sejati. Show all posts

Kisah Syekh Magelung Sakti dan Nyi Mas Gandasari

Syekh Magelung sakti dalam cerita dan tradisi Cirebon disebutkan sebagai seorang laki-laki Mesir yang gondrong sejak lahir, sumber lain ada yang menyatakan dari negri Syam. Beliau dikisahkan berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain demi untuk mencari seseorang yang mampu memotong rambut gondrongnya, ia sendiri dan bahkan guru-gurunya tidak mampu memotong rambut panjangnya.

Kasus Syekh Magelung sakti ini mirip dengan kasus bocah gimbal di lereng gunung Dieng, dimana rambut bocah gimbal tersebut tidak boleh sembarangan memotongnya, sebab jika dipotong dengan tanpa perhitungan yang matang bisa menyebabkan sakit atau bahkan bisa menyebaban kegimbalan rambut bocah yang bersangkutan semakin menjadi-jadi.

Tidak ada kejelasan mengenai siapa nama asli dari Syekh Magelung Sakti, nama Syekh Magelung sakti sendiri sebenarnya merupakan julukan yang mempunyai maksud adalah seorang Syekh (kiai) yang memiliki rambut panjang yang digelung. Dan karena rambut panjangnya tersebut kebal atau tidak mempan dicukur maka untuk kemudian dikatakan sakti.

Kelainan yang di alami oleh Syekh Magelung Sakti ini pada nyatanya membuat beliau tak nyaman, dari rasa ketidak nyamananya itu beliau kemudian meninggalkan negeri Mesir untuk berkelana mencari seseorang yang sanggup memotong rambutnya. Namun, setiap negeri yang ia datangi belum ada satu orangpun yang sanggup dan bisa memotong rambut panjangnya.

Kisah pengembaraan Syekh Magelung Sakti ini kemudian terhenti di daerah yang bernama Cirebon, sebab ketika beliau menginjakan kaki di Cirebon ternyata Sunan Gunung Jati mampu memotong rambut Gondrongnya, beliaupun kemudian berguru kepada Sunan Gunung Jati.

Setelah menjadi murid Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti dikisahkan banyak membantu kemajuan Kesultanan Cirebon. beliau kemudian diangkat oleh Sultan Cirebon menjadi penguasa di Desa Karang Kendal sebagai hadiah dari jasa-jasanya, dan setelah menjabat sebagai penguasa Karang Kendal, beliau juga kemudian dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal.

Ada kisah menarik seputar kedatangan Syekh Magelung Sakti. Beliau mendarat di Cirebon, ketika Nyimas Ganda Sari sedang melakukan Sayambara untuk mencari Suami.
Nyimas Gandasari dalam sejarah Cirebon dikenal sebagai murid sunan Gunung Jati yang rupawan, selain rupawan beliau juga dikisahkan mewarisi Ilmu Agama dan kedigjayaan dari gurunya, akan tetapi beliau selama hidupnya memilih menjadi prawan sunti, pernah memang suatu ketika Nyimas Gandasari mengadakan sayambara dalam bentuk duel adu kesaktian untuk mencarai Suami, tapi tak ada satupun yang mampu menandinginya.

Dalam Sayambara itu Nyimas Gandasari menantang para pembesar di wilayah Kesultanan Cirebon untuk bertarung dengannya. Bagi yang mampu mengalahkannya maka imbalannya dijadikan suaminya.

Dalam Sayambara ini dikisahkan tidak ada satupun para pembesar Cirebon yang mampu mengalahkannya. Syekh Magelung sakti yang pada waktu itu kebetulan sedang menyaksikan Sayambara itu kemudian beliau ikut terjun kemedan laga, beliaupun dikisahkan mampu mengalahkan Nyimas Gandasari.

Kesaktian Nyimas Gandasari sebenarnya bukan tanpa tanding, terbukti dari dikalahkannya Nyimas Gandasari oleh seorang pemuda Gondrong dari Mesir, namun pemuda gondrong tersebut rupanya bukan tipe pria idamannya.

Karena merasa Syekh Magelung Sakti sebagai tamu yang tak diundang, Nyimas Gandasari menolak untuk dinikahi Syekh Magelung Sakti, meskipun ia mampu mengalahkannya.

Dalam masa-masa kisruh inilah kemudian Sunan Gunung Jati yang tak lain merupakan Guru dari Nyimas Gandasari datang untuk menengah-nengahi.

Menurut legenda yang berkembang, Ganda Sari itu sebenarnya bukan nama sebenarnya namun merupakan julukan, karena memang beliau ini dikisahkan sebagai seorang wanita yang bersih, dan suka sekali menggunakan wawangian, sehingga harum tubuhnya itu semerbak berlipat-lipat, sebab memang dalam Bahasa Cirebon kata Ganda bermasud berlipat, sementara Sari bermaksud mewangi.

Selain dikenal dengan nama Gandasari, beliau juga dikenal dengan nama Nyimas Panguragan, Panguragan sendiri merupakan nama Desa/padukuhan dimana beliau tinggal. Panguran juga merupakan wilayah kekuasaannya yang dihadiahkan oleh Sultan Cirebon atas jasa-jasanya. Sementara dalam sejarah Indramayu Nyimas gandasari dipercayai juga sebagai Nyi Endang Darma, Salah satu pendiri Indramayu.

Nyimas Gandasari selama hidupnya pernah menjadi Panglima Perang Kerajaan Cirebon, ia merupakan satu-satunya panglima perang wanita dalam sejarah berdirinya Kerajaan Cirebon, jasanya yang paling menonjol bagi kedigjayaan Cirebon adalah keberhasilanya membobol benteng pertahanan Kerajaan Sunda Galuh. Sehingga berkat jasanya itu Cirebon kemudian dapat menaklukan Galuh.

Kuat dugaan, Nyimas Gandari dihadiahi wilayah kekuasaan yang sekarang dikenal dengan nama desa Panguragan itu setelah keberhasilannya dalam perang menaklukan kerajaan Galuh.

Nyimas Gandasari juga dikisahkan tidak memiliki suami, oleh karena itu hingga sekarang beliau tidak mempunyai keturunan atau pewaris. Begitulah memang pilihan hidup Nyimas Gandasari lebih nyaman menjadi seorang Prawan Sunti, meski beliau dianugerahi wajah nan rupawan.

Sampai saat ini, makam atau kuburan Nyimas Gandasari dapat ditemui di desa Panguragan Kabupaten Cirebon. Makamnya selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di wilayah Cirebon.

Dari pertemuan pertama antara Syeh Magelung Sakti dan Sunan Gunung Jati inilah kemudian peristiwa pemotongan rambut Syekh Magelung sakti itu dilakukan. Syeh Magelung kagum akan kesaktian Sunan Gunung Jati dan akhirnya memohon untuk diterima menjadi muridnya.

Syekh Magelung Sakti dalam sejarah Cirebon dikenal sebagai salah satu Panglima Perang Kesultanan Cirebon awal, ada berbagai versi mengenai asal-usul tokoh ini, ada yang menyatakan dari negeri Syam, ada juga yang menyatakannya berasal dari negeri Mesir.

Selepas Syekh Magelung berjasa ikut membantu menyebarkan Islam di tanah Pasundan dan juga ikut dalam berbagai pertempuran menghadapi kerajaan Pajajaran, Syekh Magelung sakti dianugerai wilayah kekuasaan di Desa Karangkendal, oleh karena itu selain dikenal dengan nama Syekh Magelung Sakti, tokoh ini juga dikenal dengan nama Pangeran Karangkendal.

Selepas beberapa lama memerintah Karangkendal dan memasuki usia senja, Syekh magelung Sakti dikabarkan wafat. Dalam naskah Mertasinga, kewafatan Syekh Magelung Sakti didahului oleh kisah absenya Syekh Magelung sakti dari pertemuan-pertemuan yang dilangsungkan di Gunung Jati.

Syekh Magelung sakti dikisahkan dalam beberapa kali tidak mengikuti rapat-rapat pemerintahan yang dilaksanakan di Gunung Jati, oleh karena itu Sunan Gunung Jati merasa kehilangan. Sunan Gunung Jati kemudian menanyakan kabar Syekh Magelung kepada para pejabat pemerintahan lain, namun tak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Mendapati keadaan itu, akhirnya Sunan Gunung Jati mengutus para pejabat pemerintahan untuk mencari kabar tentang keberadaan Syekh Magelung, setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya salah seorang pejabat yang diperintah itu melaporkan bahwa “ Di daerah Karang Kendal Telah Memancar Sinar, dibawahnya terhampar tikar, akan tetapi di atas tikar tersebut tidak ada orang yang mendudukinya, melainkan dihinggapi sekelompok burung alap-alap”.

Kabar tersebut bermakna, Syekh Magelung sakti dalam keadaan sakit dan kemudian meninggal, mendengar kabar itu Sunan Gunung Jati kemudian memerintahkan para pejabat pemerintahannya untuk mengurus jasad Syekh Magelung Sakti dengan upacara kebesaran Kerajaan sebagaimana umumnya pada waktu itu.

Syekh Magelung Sakti wafat di Karang Kendal dan dimakamkan disana, makamnya hingga kini dapat dijumpai di Karang Kendal, Sebuah desa yang kini masuk pada wilayah Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon.

Kini makam Syekh Magelung Sakti sampai sekarang masih dapat dilihat, komplek pemakamannya dikelilingi oleh tembok merah yang merupakan bangunan khas pemakaman tokoh-tokoh Kesultanan Cirebon.

Pangeran Cakrabuana dan Raden Kian Santang

Sejarah Cirebon nyaris tak menyinggung dan mengisahkan Kian Santang. Meski dua tokoh utama dalam sejarah berdirinya kesultanan Cirebon adalah Anak anak Prabu Siliwangi dari Subang Larang. Mereka adalah Pangeran Cakrabuana dan Putri Rara Santang. Bisa jadi hal ini yang kemudian memunculkan dugaan atau teori yang menganggap bahwa Kian Santang sesungguhnya adalah Pangeran Cakrabuana sendiri.

Ayah dan Bunda biasanya hanya akan mengizinkan anak anaknya meninggalkan rumah untuk melanjutkan pembelajaran setelah mencapai usia dewasa. Perjalanan Pangeran Cakrabuana sampai ahirnya tinggal bersama kakeknya di Cirebon pun pada awalnya dijalani sendirian sampai kemudian adik perempuannya, Rara Santang menyusulnya. Cukup masuk akal bila saat itu Kian Santang yang masih belum mencapai usia dewasa tidak pergi bersama dua kakaknya, tapi masih tinggal di keraton Pajajaran bersama orang tuanya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Raden Kian Santang adalah Pangeran Cakrabuana. Bilalah demikian adanya maka yang memulai berdirinya kesultanan Cirebon adalah Kian Santang, termasuk yang mendirikan kraton Pakungwati, lalu menikahkan putrinya dengan Syarif Hidatullah. Dan tentu saja berarti Kian Santang adalah juga mertua Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati ?.

Pernyataan itu sama sekali bertolak belakang dengan sejarah kesultanan cirebon. Cikal bakal kesultanan Cirebon dimulai oleh Pangeran Cakrabuana yang ditunjuk oleh ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) untuk menjadi penguasa disana sebagai bagian dari Pajajaran. Bermodalkan harta dari Kakeknya dari pihak Ibu beliau membangun kraton Pakungwati yang namanya diambil dari nama putrinya.

Pangeran Cakrabuana ke tanah arab bersama adik perempuannya (Rara Santang) tinggal di kediaman kerabat dari kakek-nya. Melaksanakan ibadah haji dan menetap cukup lama disana untuk belajar Islam, baru kemudian pulang ke tanah Jawa tanpa ditemani oleh Rara Santang yang sudah menikah di tanah Arab.

Intinya adalah bahwa Pangeran Cakrabuana berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, menyempurnakan rukun Islam yang ke lima, maknanya beliau sudah muslim sebelum berangkat ke Arab. Beliau sudah “nyantri” di Cirebon memahami ajaran Islam cukup lama sebelum kemudian berangkat ke tanah suci. Tentang sejarah Islam di Cirebon Anda bisa menelusuri lebih jauh tentang Syech Datuk Kahfi atau varian nama lainnya.

Bandingkan dengan sejarah Kian Santang yang mainstream menyebutkan bahwa beliau berangkat ke tanah Arab untuk menemukan lawan tanding yang mampu mengalahkannya, yakni orang yang bernama “Sayyidina Ali”. Sampai kemudian memeluk agama Islam, maknanya bahwa, berdasarkan kisah tutur tersebut, Kian Santang berangkat ke tanah Arab sebelum menjadi muslim. Disebutkan bahwa, beliau justru mulai memeluk Islam di tanah Arab setelah kalah telak kesaktiannya dengan orang yang dikenal dengan nama “Sayyidina Ali”.

Kian Santang kembali ke tanah air berusaha meng-Islamkan ayahandanya namun gagal dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar dalam kurun waktu yang cukup lama. Setelah cukup menimba ilmu di tanah suci beliau kembali ke Pajajaran, melanjutkan upaya meng-islamkan ayahandanya.

Sedangkan Pangeran Cakrabuana kembali ke tanah Jawa dari tanah arab, melanjutkan pengembangan dakwah, membuka wilayah baru, membangun keraton, menjalankan roda pemerintahan di wilayah yang kini disebut Cirebon, sebagai bagian dari kerajaan Pajajaran. Cirebon merupakan salah satu gerbang laut utama bagi Kerajaan Pajajaran selain Banten dan Sunda Kelapa. Dari alur cerita tutur yang beredar pun sangat jelas bahwa Kian Santang dan Pangeran Cakrabuana adalah dua sosok yang berbeda.

Teori atau pendapat lain bahkan menyebutkan bahwa sesungguhnya sosok Kian Santang itu tidak pernah ada. Kisah Kian Santang sendiri adalah sebuah kisah karangan yang dituturkan oleh Pangeran Cakrabuana dalam dakwahnya dengan metoda berdakwah melalui cerita atau mendongeng. Bahwa kisah Kian Santang yang dituturkan itu diambil dari salah satu buku yang tersimpan di perpustakaan kerajaan Pajajaran. Pangeran Cakrabuana memetik kisah itu menjadi bahan dakwahnya karena memiliki alur cerita yang mirip dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Konon, buku tersebut mengisahkan tentang Pangeran Gagak Lumayung putra mahkota kerajaan Tarumanegara, anak dari Prabu Purnawarman, di sekitar tahun 450 masehi. Nama Ki An San Tang (Sang Penakluk Bangsa Tan) merupakan gelar kehormatan bagi Gagak Lumayung yang berhasil mengalahkan pasukan bangsa Tan yang kala itu menyerbu ke Taruma Negara. Dan menurut pendapat ini, sosok Kian Santang yang selama ini kisahnya dituturkan adalah sosok pangeran Gagak Lumayung tersebut. Pendapat ini agak sulit untuk diterima karena Pangeran Gagak Lumayung yang dimaksud justru hidup di masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sehingga dengan sendirinya pendapat yang menyatakan bahwa Kian Santang Adalah cerita dongeng yang dituturkan oleh Pengeran Cakrabuana dari Kisah perjalanan Ki An San Tan alias Gagak Lumayung dari era Tarumanegara, gugur dengan sendirinya.

Kian Santang Bertarung dengan Ayahnya Sendiri?

“Adu kesaktian” dengan berbagai alur cerita antara Kian Santang melawan ayahnya sendiri (Prabu Siliwangi) sangat melekat dengan sosok Kian Santang, dan akhir dari ‘pertarungan’ itu adalah di sebuah gua di Leuweung (Hutan) Sancang (di Pameungpeuk, Kabupaten Garut). Ada banyak versi tentang ahir dari bagian ini, namun memiliki garis merah yang sama yakni; Prabu Siliwangi “Moksa” di Leuweung Sancang.

Bila saja kisah tersebut benar adanya, Itu bermakna Prabu Siliwangi moksa dua kali. Karena kemudian ada kisah tutur yang menyebutkan bahwa moksanya Prabu Siliwangi karena ke-engganannya mengikuti ajakan Syarif Hidayatullah untuk (Kembali) ber-Islam. Antara usia Kian Santang dan Syarif Hidayatullah (antara paman dan keponakan) terpaut dua puluhan tahunan, atau dalam bahasa sederhananya pada saat Syarif Hidayatullah baru lahir di tanah arab, Kian Santang sudah sakti di tanah Jawa.

Bila Prabu Siliwangi sudah di “moksa’ kan oleh Kian Santang di Leweung Sancang dan sudah tidak lagi hidup di alam dunia ini dan juga sudah tidak lagi menjadi Raja Pajajaran, bukankah mustahil sosok yang sama kemudian berhadapan dengan Syarif Hidayatullah lalu “moksa” demi menghindari pertarungan dengan cucunya sendiri.

Dalam "Wangsit Uga Siliwangi" dikatakan bahwa keturunnya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain, Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya :

"Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang !"

artinya:

"Kalian yang di sebelah barat!".."Carilah oleh kalian Ki Santang !" "Sebab.."

"Nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi!

"Ingat! Jangan menoleh kebelakang!"

Dalam artikel sebelumnya tentang Prabu Siliwangi, telah dijabarkan bahwa Prabu Siliwangi wafat secara wajar dan kemudian tahta Pajajaran diteruskan oleh Putra Mahkota, Prabu Surawisesa. Beliau yang kemudian menulis sebuah prasasti di tahun ke 12 sejak kematian ayahandanya. Prasati yang dikemudian hari dikenal sebagai Prasasti Batu Tulis. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan di masa damai setelah ditandatanganinya perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Cirebon, saat itu Pajajaran juga sudah kehilangan wilayah Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai Kesultanan Cirebon.

Maknanya bahwa, Baik Kian Santang maupun keponakannya (Syarif Hidayatullah), tidak pernah bertarung atau adu kesaktian dengan Prabu Siliwangi dalam upaya meng-islam-kan ataupun dalam upaya mengajak Prabu Siliwangi untuk kembali ke jalan Islam, dan berujung kepada moksa nya Sang Prabu dari alam dunia.

Menilik tiga pernikahan Prabu Siliwangi, kita akan mendapati kenyataan bahwa dua dari pernikahan beliau memiliki nuansa politik yang kental. Pernikahannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda memberikan beliau legalitas sebagai pewaris kerajaan Sunda dari Prabu Susuktunggal. Kemudian pernikahannya dengan Ambet Kasih yang tak lain adalah putri dari Ki Gede Sindangkasih penguasa Sindangkasih (Majalengka), daerah yang “tak jauh dari” atau malah merupakan “ibukota” kerajaan Galuh yang membuka ruang baginya untuk memuluskan kekuasaan dari ayahandanya, Prabu Dewa Niskala.

Sedangkan perjumpaan beliau dengan Subang Larang, merupakan perjumpaan tanpa sengaja di ‘pesantren’ Syech Quro, yang justru terjadi dalam tugas beliau untuk membumihanguskan pondok Quro, tapi malah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Subang Larang. Kekuatan apa yang mampu membuat pewaris tahta dua kerajaan sekaligus, mampu mengubah haluan hidupnya, selain kekuatan cinta.

Cinta nya kepada Subang Larang yang kemudian membawa beliau kepada Islam, demi memenuhi syarat yang diajukan oleh Subang Larang untuk menerima pinangan Prabu Siliwangi. Berislamnya Sang Prabu tidak diikuti dengan berislamnya Pajajaran secara keseluruhan kala itu, mengingat bahwa pernikahan terjadi pada saat Sang Prabu masih berstatus sebagai “putra mahkota”, dan kemungkinan akan menyulitkkan posisinya untuk menyatukan kembali dua kerajaan yang terpisah apabila terang terangan menyatakan keyakinannya yang sudah berbeda dengan khalayak ramai kala itu termasuk berbeda dengan anggota keluarga keraton Pajajaran lainnya.

Dari fakta sejarah tidak pernah ada serbuan dari pusat kerajaan Pajajaran ke daerah Cirebon meskipun saat itu Islam sudah berkembang pesat di masa Pangeran Cakrabuana berkuasa disana sebagai bawahan Pajajaran, bukahkah Prabu Siliwangi sendiri yang datang ke Cirebon dan mengesahkan Pangeran Cakrabuana, putra tertuanya dari Subang Larang sebagai penguasa Cirebon sebagai kerajaan bawahan Pajajaran. Sangat nyata bahwa beliau melakukan pembiaran bagi berkembangnya Islam di kerajaannya sendiri.

Suasana berubah drastis ketika Subang Larang wafat, Sang Prabu tenggelam dalam duka mendalam dan berkepanjangan, membuat beliau kehilangan sosok yang senantiasa mengingatkan beliau pada nilai nilai Islam, sedangkan dua anaknya (Cakrabuana dan Rara Santang) sudah tidak tinggal di Kraton Pajajaran. Hanya putra ke tiganya dari Subang Larang yakni Kian Santang yang masih tinggal di kraton Pajajaran. Maka wajar bila kemudian berkembang kisah tutur tentang pertarungan antara Kian Santang dengan ayahnya dalam upaya mengislamkan (kembali) sang Ayah. Yang paling mungkin terjadi adalah, Kian Santang memang berusaha ‘menasihati’ ayahandanya untuk tidak berlarut larut dalam kesedihan dan kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya. Namun tentu saja tanpa sebuah pertarungan adu kesaktian dua pendekar pilih tanding sebagaimana yang sering disampaikan secara tutur tinular.

Pangeran Cakrabuana yang mempunyai nama asli Pangeran Walang Sungsang selama hidupnya memiliki dua orang istri. Dari kedua Istrinya itu kemudian beliau memperoleh keturunan sepuluh anak, yaitu delapan orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki. Adapun nama-nama putra putrinya adalah sebagai berikut:

1. Perkawinan Dengan Nyi Rasa Jati.
Nyi Rasa Jati merupakan puteri dari Syekh Jatiswara, beliau dikisahkan berasal dari Cempa sebab itulah orang Cirebon menyebutnya Syekh Jatiswara Cempa.
Dari perkawinan dengan Nyi Rasa Jati atau Nyi Gedeng Jati ini beliau dikaruniai tujuh anak, kesemuanya wanita. Adapun nama-namanya adalah sebagai berikut:

~ Nyi Lara Konda, di Alas Konde Gunung Jati
~ Nyi Lara Sejati, di Gunung Jati
~ Nyi Jati Merta, di Desa Jati Merta
~ Nyi Jemaras, di Desa Jemaras
~ Nyi Mertasinga, di Desa Mertasinga
~ Nyi Cempa, di Desa Dukuh, Karang Kendal
~ Nyi Rasamalasih, di Blok Sembung Astana Gunung Jati

2. Perkawinan Dengan Nyimas Kencana Larang.
Nyimas Kencana Larang atau yang mempunyai nama lain Nyi Mangunsari Ing Kamangunan adalah anak dari Kuwu Cirebon pertama, yaitu Ki Gede Alang-Alang, atau Bramacari Srimaana, seorang Syahbandar Pelabuhan Muara Jati.

Hasil perkawinan dengan Nyimas Kencana Larang ini, Pangeran Cakrabuana memperoleh satu puteri dan dua putera, yaitu :
(1) Nyi Dalem Pakungwati.
(2) Pangeran Kejaksan/Pangeran Pajebugan dikenal juga dengan nama Arya Mengger.
(3) Pangeran Pajarakan.

Sementara kisah beralih ke Raden Kian Santang saat Pergi Meninggalkan Tahta

Prasasti Banten mengindikasikan bahwa Prabu Siliwangi wafat dan dimakamkan di Rancamaya, bukan moksa di suatu tempat. Bila beliau moksa tentunya tidak akan ada prosesi pemakaman dan dua belas tahun kemudian makamnya di bongkar oleh Prabu Surawisesa untuk diperabukan bersamaan dengan pembuatan prasasti yang kini dikenal dengan prasasti Batu Tulis.

Kehilangan Ibunda sekaligus kehilangan ayahanda tercinta dan bukan pula sebagai pewaris utama tahta kerajaan tentunya cukup alasan bagi Kian Santang untuk hijrah kemanapun yang beliau inginkan. Sedangkan untuk berdakwah dilingkungan keraton yang masih kental dengan ajaran sebelumnya, termasuk juga masih dianut oleh Penerus Raja yang tak lain adalah Kakaknya sendiri meski berbeda ibu, hanya akan menimbulkan pertentangan dan pertikaian yang tidak semestinya terjadi.

Dapat difahami bila kemudian Kian Santang memilih untuk berdakwah di pedalaman Pajajaran, tidak pula di wilayah Cirebon yang sudah ditangani oleh kakaknya dan dikemudian hari dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dan sebagai putra raja wajar pula bila beliau melakukan perjalanan ditemani oleh pengawal dan orang orang kepercayaan dengan bekal yang cukup pula untuk memulai sebuah kehidupan baru. Seberapapun perbedaan pandangan hidup antara Kian Santang dengan Surawisesa namun bagaimanapun mereka adalah saudara seayah. Surawisesa selaku penerus tahta tidak mungkin membiarkan adiknya pergi begitu saja meninggalkan istana tanpa bekal apapun.

Pada usia 22 tahun Prabu Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor.

Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa khususnya di Pasundan. Prabu Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mengalahkan kegagahannya. Sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun, Prabu Kiansantang belum tahu darahnya sendiri dalam arti belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa.

Dikemudian hari beliau dikenal dengan nama
Prabu Kiansantang atau Raden Sangara atau Syeh Sunan Rohmat Suci.
Sunan Rohmat Suci diyakini wafat dan dikebumikan di tempat terakhir beliau berdakwah, yaitu di suatu tempat di daerah Garut yang kini dikenal dengan nama Makam Godog di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat.
Tidak hanya beliau yang bermakam disana tapi juga beberapa pengikut dan pengiring atau pengawal beliau. Komplek pemakaman yang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru tanah air.

Wallahu'alambhisshowab...


Pembangkitan Energi Sejati


Program ini tidak lain merupakan pemberdayaan Potensi Murni yang ada dalam diri setiap manusia yang merupakan bagian dari Kesempurnaan yang telah Tuhan berikan dalam diri manusia. Selama ini potensi tersebut belum teroptimalkan pemberdayaannya karena rahasianya belum terbuka.

Hanya dengan melalui Program Pembangkitan Energi Sejati rahasia tersebut mampu dibukakan. Tak dapat dibayangkan, hanya dalam waktu singkat dengan mengikuti Program ini, siapapun kita apapun suku-ras-keturunan-agama-gender kita, peka tidak peka, akan mendapatkan Kualitas Keselamatan tingkat tinggi yang mampu dirasakan dan dibuktikan keberadaannya di mana pun kita berada, di samping juga kita memiliki Kualitas Kesehatan di atas manusia rata-rata.

Energi Sejati yang telah teraktifkan dalam diri kita bersifat permanen, tidak memiliki pantangan apapun, serta tidak dapat hilang / dihilangkan oleh makhluk apapun. Adapun Tingkat keselamatan dalam Energi Sejati bersifat Mutlak karena Energi Sejati adalah hakekat Ilmu yang sesungguhnya.

Hakekat Ilmu yang sesungguhnya adalah Sifat Allah, dan Sifat Allah mutlak. Barang siapa yang sampai kepada hakekat ilmu maka dia mendapat kepastian dengan dan atas sifat ilmunya. Adapun keberadaan Energi Sejati dalam diri, mampu dirasakan oleh pemiliknya (walaupun sebelumnya dia bukan orang yang peka). Kemampuan energi haq dalam diri ini dapat ditingkatkan pemiliknya sampai pada tataran tidak terhingga.

Metoda Pembangkitan Energi Sejati tidak dilakukan dengan cara-cara seperti: Olah Nafas, Pembukaan Cakra, Intuisi, Attunement, Afirmasi, Penyelarasan, Pengisian, Laku Rithual, atau dengan kekuatan Jin, seperti dalam Seni Pernafasan, Berbagai Olah Energi, maupun Ilmu Hikmah, tapi mutlak dilakukan dengan Penguasaan Ilmu , di mana kemampuan ini hanya dimiliki oleh seorang Ahli Ilmu yang telah mencapai tingkat paripurnan, Tingkat Pencerahan.

Sampai saat ini Program Pembangkitan Energi Sejati ini telah diikuti oleh  ribuan orang dari berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri, serta dari berbagai tingkatan strata pendidikan mulai dari strata pendidikan rendah sampai strata pendidikan Doktoral, dan dari berbagai strata kehidupan, yang di antaranya datang dari kalangan ; Pejabat tinggi, Perwira Tinggi Militer / Kepolisian, Dokter Kesehatan, Dosen,  Enterpreneur, Karyawan, Mahasiswa, Praktisi Seni Nafas / Prana / Reiki / Kundalini / Ilmu Hikmah / program lainnya, maupun Paranormal, serta masyarakat umum.

Untuk meningkatkan kualitas Keselamatan dan Keamanan Diri, serta untuk meningkatkan kualitas Kesehatan, saat ini banyak metoda yang ditawarkan oleh berbagai lembaga maupun perorangan yang dengan mudah kita dapat menemukannya. Umumnya keilmuan tersebut dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi dari luar diri manusia, apakah itu lewat transfer atau pengisian dengan berbagai cara ataupun dengan menyatukan frekuensi energi alam.

Dalam Program Pembangkitan Energi Sejati hal seperti itu tidak dibutuhkan. Mengapa, karena Energi Sejati adalah Potensi yang benar-benar ada dalam diri kita sebagai manusia yang merupakan Rahasia Kesempurnaan Diri Manusia. Perlu diketahui bahwa Energi Metafisika terdahsyat yang ada di alam semesta raya ini ada pada diri manusia, sehingga manusia mampu memikul amanah dari Tuhannya, di mana tak satupun makhluk di dunia ini termasuk alam semesta yang mampu memikulnya.

Sayangnya, umumnya manusia tidak menyadari akan arti kelebihan dan kesempurnaan yang diberikan padanya atas segala makhluk Tuhan lainnya, sehingga mereka mencari sesuatu di luar diri mereka untuk meningkatkan kualitas dan derajat kehidupannya. Sebagian mereka menempuh jalan yang salah, Sebagian merasa telah menemukan suatu teknik atau metoda namun pada prakteknya tidak memberikan hasil yang memuaskan, dan sebagian lagi berusaha memperoleh bantuan dari kekuatan-kekuatan lain. Tanpa disadari telah banyak waktu maupun materi yang dikorbankan begitu saja tanpa membuahkan hasil yang memuaskan. Waktu yang khusus harus disediakan untuk pengolahan, ritual yang berat pun harus dijalankan.

Padahal sesungguhnya pencarian-pencarian tersebut tidak perlu dilakukan jauh-jauh, karena sesungguhnya seluruh jawaban ada dalam diri mereka sendiri.

Peningkatan Kualitas Keselamatan dan Kesehatan, Meraih Kesuksesan Hidup, Menembus Dimensi Ruang dan Waktu, serta Mencapai Pencerahan Agung – Derajat Tertinggi Manusia, bukan sesuatu hal yang sulit untuk diraih karena potensi untuk mencapai hal-hal tersebut telah tersedia dalam diri. Itulah yang disebut Potensi dalam diri atau Energi Sejati.

Tubuh manusia terdiri dari Tubuh Fisik dan Tubuh Ruhani. Zat-zat penyusun tubuh fisik ini tidak lain merupakan sumber utama energi fisika yang ada di alam semesta raya. Zat-zat inti ini memiliki sifat asli sebagaimana mereka berada di alam bebas. Namun sayangnya potensi dari zat-zat inti alam tersebut tidak langsung aktif ketika manusia lahir ke dunia, oleh karena itu tubuh fisik manusia rentan terhadap gangguan kesehatan dan keselamatan.

Energi Sejati merupakan Potensi inti dalam tubuh (fisik dan ruhani) yang telah kita miliki sejak kita lahir ke dunia ini, yang tidak lain adalah salah satu dari Rahasia Kesempurnaan Manusia. Potensi ini tidak dapat terbangkit atau teraktifkan dengan sendirinya atau dengan hanya mengikuti petunjuk buku tanpa dibangkitkan oleh orang yang ahli dalam ilmunya tetapi mutlak harus melalui Program Pembangkitan, yaitu proses pembukaan energi sejati dari wadahnya.

Selama proses Penyebaran dan Penyatuan Zat, setiap peserta (peka ataupun tidak peka) dapat merasakan aliran energi haq dalam tubuhnya. Ada yang merasakan hawa panas, sejuk, atau dingin yang menjalar, ada juga yang merasakan kulit menebal, getaran yang merambat, setrum halus menjalar, seperti terkena setrum listrik beberapa volt, melihat beragam jenis cahaya, atau merasakan ketenangan yang luar biasa, tergantung unsur mana yang paling dominan dalam tubuh peserta tersebut.

Adapun Energi Sejati yang telah dibangkitkan dari dalam tubuh (dari Tubuh Fisik maupun Tubuh Ruhani) memiliki manfaat multidimensional yang dapat dimanfaatkan oleh pemiliknya dalam menyelesaikan berbagai problematika kehidupan yang dihadapinya.

Anda tertarik dengan program spektakuler ini, silahkan bergabung dengan ribuan alumni lainya.
Untuk Informasi Pendaftaran dan Pelatihan, silahkan bisa menghubungi alamat dibawah ini :

Basecamp Komunitas Tembus Pandang
Musolah Darussalim, Desa Kertanegara Blok 17 RT. 22 / RW. 10
Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu – Jawa Barat
No HP. 081221521705 - 081947270111

Pembukaan Mata Ketiga


Teknik membangkitkan kekuatan Supernormal (Waskita) pada diri seseorang secara Alami dan Seketika

Mata ketiga ini tidak bersifat Mistik, namun bisa dipelajari secara ilmiah oleh siapapun tanpa harus melakukan Puasa, Wirid, Minum Air rajahan dan Bertapa

Mata Ketiga atau Indera Keenam merupakan indera pelengkap dari lima indera pada manusia yang sudah ada seperti : Mata (melihat), Hidung (mencium), Mulut/lidah (mengecap), Kuping (mendengar) dan Kulit (perasa)

Mata Ketiga adalah sesuatu yang tidak kasad mata atau disebut sebagai " Mata eterik " yang diberikan oleh Ilahi sejak manusia terlahir di dunia. Tetapi biarpun semua orang telah mempunyai Mata Eterik ini namun " Tidak aktif " alias masih tertutup. Jadi belum bisa digunakan atau ataupun dimanfaatkan karena belum diaktifkan kelenjar Pinealnya, Chakra Mata Ketiga, dan alat pelengkap lainnya, sehingga masih dalam "KEMISTERIAN". Dan bagi orang awam " Mata Eterik " ini masih seperti ada dan tiada.

Mata Ketiga disebut juga sebagai Mata Spiritual atau Mata Jiwa. Letak Mata Spiritual ini ada diantara kedua alis mata manusia atau Chakra Ajna (tempat intuisi manusia). Bila Mata Ketiga ini telah dibuka dan diaktifkan beserta perangkat pelengkapnya, maka langsung berfungsi dan mempunyai manfaat yang sangat besar. Seseorang yang telah dibuka Mata Ketiganya, maka orang tersebut akan menjadi Waskita (memiliki kemampuan tembus pandang). Dan dari sinilah dasar bagi seseorang untuk mencapai " Pencerahan ".

Kewaskitaan dulu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja (pilihan) yang dilakukan dengan cara : Puasa, Wirid, Bertapa, yang banyak mengorbankan, pikiran, fisik, mental, waktu dan materi.

MANFAAT PEMBUKAAN MATA KETIGA :

Kemampuan untuk melihat : Aura (diri sendiri, orang lain) Anda tidak perlu lagi melihat Aura dengan " FOTO AUARA", karena dengan ini Anda dapat memba canya dari Warna energi dan juga Chakra.
Kemampuan untuk dapat melihat Aura, maka dengan demikian Otak sisi kanan Anda menjadi aktif digunakan sehingga membuat seseorang menjadi Kreatif.
Kemampuan untuk mendapatkan Intuisi, Ilham dan kekuatan dalam kesadaran Kosmik.
Kemampuan untuk melihat energi dari berbagai macam benda bertuah : Kris, Batu dan benda Pusaka lainnya.
Kemampuan untuk dapat melihat Makhluk Halus (Hantu)
Kemampuan untuk dapat membaca pikiran, sifat dan bakat seseorang.
Kemampuan untuk mendeteksi suatu Penyakit, Benda gaib(susuk) pada tubuh Seseorang.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan energi Alam Semesta
Kemampuan mendeteksi suatu penyakit baik langsung maupun tidak langsung
Membimbing seseorang untuk memperoleh tujuan hidup kearah yang lebih baik dan sukses.
Dapat melindungi dari hal-hal negatif
Dapat menjaga kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.
Dapat meningkatkan kemampuan penyembuhan bagi seseorang (Praktisi Reiki Tummo Galinda Shakti)
Dapat membantu kesehatan mata fisik ( mata yang minus berangsur-angsur akan berkurang), pikiran dan jiwa, serta dapat memberikan keseimbangan.

Ilmu Terawangan Tanpa Puasa


Ilmu penerawangan ini adalah jenis ilmu yang bisa mendeteksi apa yang akan terjadi di kemudian hari, banyak yang berhasil mengamalkan ilmu ini dan efeknya orang tersebut menjadi sombong, Kami berpesan kepada para pembaca yang terhormat untuk tidak mengamalkan ilmu ini jika untuk gagah gagahan.

Ilmu ini sifatnya adalah untuk membantu atau meringankan jika kedepanya terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, seperti contoh jika kedepanya di temukan gambaran akan terjadi kecelakaan pada diri anda, anda bisa menghindari kejadian itu, namun demikian segala sesuatu tetap Tuhan lah yang mengatur kehidupan alam semesta ini.

Ilmu terawang ini sebenarnya berguna untuk "melihat" tubuh yang sakit juga untuk pengobatan. Tapi dalam prakteknya, sering di gunakan juga untuk main-main, melihat lihat dimensi alam ghaib. Kenapa saya sebut main-main, karena anda bukan dukun profesional kan..? yang mencari uang dari kemampuan paranormal anda, sehebat apapun terawangan anda, tetep masih bisa kecolongan, tetep ada apesnya. Jadi tidak perlu takabur/sombong. Saya akan ajarkan cara terawangan simple dan mudah.

Cara Melakukan Ilmu Terawang:
- tutup mata anda
- duduk bersila
- rileks
- cari tempat yang tenang.

Baca mantra:
"Bismillahirrohmanirrohim
Ya alimul ghoibi wasyahadati
wujud ghaib jadi nyata
nyata ghaib ku nu kuwasa
kuwasa ning lahir bathin
karna Alloh Lillahita'ala"

Satu kali tahan nafas, baca mantra di atas 7x tanpa putus,
lakukan 3x tahan nafas ( 7×3= 21 x mantra)

Setelah itu, niatkan anda ingin melihat apa dalam hati.
Dalam hati, baca Shalawat atau Lailahaillalloh Muhamadarosulullah.
Ucap Alhamdulillah.. Yakinlah bahwa apa yang anda lihat melalui mata bathin adalah bukan khayalan anda!

Ilmu Terawangan Alam Gaib


Ilmu terawangan adalah sebuah ilmu spiritual berupa teknik menembus alam gaib menggunakan mata batin untuk menyingkap rahasia alam gaib yang dihuni oleh makhluk-makhluk gaib atau makhluk halus.

Ilmu terawangan ini hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang rajin berlatih dan disertai bakat. Tanpa bakat, seseorang yang belajar ilmu terawangan harus berlatih ekstra dan harus mendapat bimbingan tambahan dari seorang guru ahlinya. Dan jika tanpa memiliki seorang guru, maka orang yang belajar ilmu terawangan bisa tersesat di alam gaib.

Bagi orang yang sudah mahir, mereka bisa memasuki alam jin, alam gondoruwo, alam tuyul, dan macam-macam alam makhluk gaib lainnya. Jangan lupa baca juga Mitologi Nusantara Tentang Tuyul Mencuri Uang.

Cara berlatih ilmu terawangan untuk menembus alam gaib ini diawali dengan bersemedi atau meditasi. Meditasi ini dimulai dengan duduk bersila di tempat yang gelap dan sepi (hening) agar bisa memusatkan pikiran ke dalam satu titik di antara alis mata.

Sebelum memulai bersemedi, biasanya seseorang yang hendak menembus alam gaib akan meminta ijin dulu kepada penguasa gaib setempat yang dalam tradisi jawa disebut”mbah danyang”. Informasi elengkapnya tentang mbah danyang bisa anda baca di Kepercayaan Jawa Tentang Adanya Mbah Danyang.

Jika meditasi berjalan sempurna, maka seseorang tersebut akan merasakan melayang-layang di alam halusinasi karena terbawa oleh alam pikiran yang bergerak-gerak dengan sendirinya. Kemudian akan melihat penampakan putih samar-samar yang bergerak-gerak seperti asap yang berada di alam kegelapan.

Sampai akhirnya seseorang tersebut melihat satu sinar putih kecil seukuran kelereng. Jika berhasil mencapai fase ini, berarti proses terawangan 90% berhasil. Kemudian sinar itu perlahan-lahan akan membesar dan semakin mendekat serta sangat menyilaukan mata, dan membuat mata orang yang bersemedi ini rasanya seperti terbalik.

Dan kemudian orang tersebut akan tersedot masuk ke dalam lorong di dalam sinar putih itu sampai akhirnya melihat alam gaib yang terang benderang. Inilah yang dimaksud alam terang di balik kegelapan. Sebuah alam yang berada di dimensi tersembunyi dan bisa dimasuki dengan menembus kegelapan.

Namun ini masih di alam gaib tingkat pertama yang dihuni oleh makhluk halus mirip manusia setengah binatang. Pada step ini tidak boleh berhenti. Seseorang yang belajar ilmu terawangan masih harus melanjutkan perjalanan lagi sampai mencapai alam gaib yang benar-benar sempurna. Nantinya mereka akan menyaksikan indahnya alam gaib beserta penghuninya dengan gaya kehidupan khas alam gaib.

Biasanya mereka akan dijemput oleh gurunya ketika masuk alam gaib, lalu kemudian diajak berkeliling masuk ke istana berlantai kaca berselimut permadani serta melihat gadis-gadis cantik di taman bunga yang berada di alam gaib. Inilah perlunya memiliki seorang guru dalam belajar ilmu terawangan agar bisa menuntunnya di alam gaib.

Setelah bisa menembus alam gaib, tugas berikutnya adalah melakukan pengembaraan di alam-alam gaib lainnya. Yaitu menjelajahi tingkatan-tingkatan dimensi gaib sampai akhirnya bisa memasuki dimensi gaib tingkat tinggi. Semakin tinggi alam yang dimasukinya maka akan semakin ampuh ilmu orang tersebut, artinya orang itu bisa memasuki alam-alam gaib yang berada dibawahnya.

Tingkatan alam gaib jumlahnya tidak terbatas. Manusia tidak mampu menghitung berapa jumlah alam gaib seluruhnya karena saking banyaknya. Dan itu adalah bukti betapa maha besarnya Sang Pencipta, yaitu Alah SWT.

>> Resiko belajar ilmu terawangan:
Orang yang belajar ilmu terawangan harus mendapat bimbingan dan dipandu oleh seorang guru. Jangan belajar sendiri atau ngarang sendiri! Karena jika tanpa mendapat bimbingan dari seorang guru yang nyata, maka seseorang yang berlatih terawangan bisa bingung, linglung dan bahkan gila. Intinya, belajar ilmu terawangan tidak boleh dilakukan sendirian tanpa dipandu seorang guru.

Sumber: Hasil wawancara dengan murid-murid putra dan putri di perguruan ilmu jawa di Babadan Rukun dan Kenjeran, Surabaya. Jangan lupa nantikan posting berikutnya tentang Pengertian Ilmu Ragasukma Dan Proses Melepas Sukma Dari Tubuh.